Sabtu, 04 Februari 2012

YOU ARE STILL THE ONE

by. Jehan KA



                Jujur, 2 minggu sudah berlalu sejak pertemuanku dengannya. Pertemuan singkat,ya hanya 2 setengah jam. 2 minggu dia juga sudah mengisi lembaran hariku. Tapi, ya kebanyakan rasa rindunya. Dan aku juga lost contact lagi dengannya. Namun aku berpikir dia lah yang memutuskan untuk tidak menghubungi ku lagi. Bisakah kau bayangkan, tidak pernah sekalipun dia mengangkat telephoneku? Sedangkan aku selalu menghubunginya setiap hari? Lalu apa alasannya dia menjauhiku? Karna dia tau apa yang aku simpan selama ini?

                ***
                “Jadi, Rabu besok kalian harus mengumpulkan karangan kalian. Karangan terbaik akan diberi nilai A++” Sahut Bu Irma seiring bel berbunyi.
                Sebagian teman-temanku berhamburan keluar. Sebagian lagi tetap tinggal di kelas, termasuk aku sendiri. Aku mengeluarkan bekal ku hari ini, bergabung dengan Mutia dan Titi.
                “Idola kamu siapa Za?” Tanya Mutia.
                “Aku gak tau.” Jawabku singkat.
                “Lalu kamu mau tulis apa pada karangan kamu itu? Kenapa kamu gak nulis tentang Ballack aja? Idola kamu kan?” Lanjut Titi.
                “Ya.. Tapi aku gak ada ide. Aku juga ga berminat buat tentang dia.” Aku langsung menyendokkan sesuap nasi ke mulutku. Aku tidak ingin pembicaraan tentang karangan idola ini berlanjut.
               
                ***
                Aku menatap handphone ku lesu. Aku telah me-misscallnya. Tapi seperti biasa, tak diangkat. Aku heran, benar-benar heran. Apakah sesibuk itu dunia mahasiswa nya? Kalau memang iya, apa salahnya dia terang-terangan bilang kalau ia sibuk? Mudah kan? aku tidak akan mengganggunya lagi. Yah, setidaknya aku tau diri juga.
                Aku membuka laptop ku. Dan menatap desktopku. Terpampang foto dia yang aku crop. Mengenakan almamater sekolahnya dan tersenyum. Aku juga ikut tersenyum dan mengatakan “apa kabar?” Dan aku sadar akan perbuatan bodoh yang aku lakukan.
                Sejenak aku berpikir apa yang harus aku buat untuk karangan besok? Sekarang sudah jam 10 malam. Aku benar-benar lupa akan tugas ini. Idola. Apa yang aku ketahui tentang seorang idola? Orang yang dipuja-puja? Tidak. Yang pantas dipuja hanya Allah SWT. Tidak bisa diduakan. Aku berpikir aku akan membuat tentang Orang yang Ku Kagumi. Itu lebih baik.

Orang yang Ku Kagumi

                Aku berhenti sejenak. Menghirup nafas panjang. Layar handphone ku berkedip. Aku gembira, dan segera meraihnya. Namun sejenak aku tertegun, setelah tau bukan dia yang menghubungi ku. Aku tak berniat sedikitpun untuk meresponnya. Kembali perhatianku kepada layar laptop, melanjutkan karangan ini.

Dia adalah kakak bagiku. Kakak yang mengajarkanku untuk jadi dewasa. Untuk tidak menangis lagi karna aku dimarahi temannya. Kakak yang mengajarkanku bagaimana belajar lebih baik. Bagaimana aku bisa meraih cita-citaku. Juga tempatku bercerita akan keluh kesahku tentang keadaan sekolah setelah ia lulus. Kakak yang tak pernah bosan menerima pertanyaan ku tentang hal-hal sulit dalam pelajaran sekolah. Dimanapun ia, ia sigap membantu. Ia bukan kakak kandung ku. Juga bukan kakak tiriku. Sejatinya, kami tidak punya pertalian darah. Namun aku tidak mau melepaskannya untuk orang lain. karna dia adalah milikku. Egois memang.

                Aku berhenti sebentar untuk membaca ulang karanganku. Aku ingat bagaimana aku menangis karna temannya, termasuk karna dia, sebelum mengenal aku. Aku tertawa bagaimana ia bisa melakukannya.

Kakak adalah segalanya bagiku. Dia tidak pernah merasa jemu akan segala hal bodoh yang aku ceritakan kepada dia. Hal bodoh. Pokoknya, dia sangat pandai mengambil hatiku, dan sekarang aku rasa dia telah berhasil. Kakak adalah seorang yang hebat di mataku. Bukan karena motivasi yang ia berikan kepadaku, aku tidak akan bisa belajar keras. Suatu hari nanti, aku akan menyusul kakak sebagai orang sukses.

                Aku menutup karanganku yang sangat singkat itu. Dan menutup air mataku yang ternyata sudah terjatuh. Semua yang ku tulis ini benar adanya. Kecuali satu, “kakak” hanya nama samaran bagiku. Malam ini dia lagi dimana ya? Lagi di kosan atau masih rapat? Aku sangat ingin menghubunginya lagi. Dan bercerita tentang segala hal yang terjadi hari ini. Namun setelah pagi itu, aku tidak bisa melakukannya lagi. Dia menghilang setelah mengucapkan selamat pagi, dan memberiku semangat pada hari itu. Setelah aku bertanya tentang mata kuliahnya pagi itu, dia tidak lagi menghubungiku sampai detik ini. Aku rindu. Rindu melihat wajahnya secara langsung.


***

                “Ga nyangka Za. Kita udah kelas 3!!!” Teriak Riska setelah penerimaan rapor kenaikan kelas.
                “hehehee… Iya..”Aku juga ikut tertawa merayakan.
                “Tapi kita gak bisa lagi main-main loh. Kelas 3. Penentuan hidup.” Rafi, temanku, berkilah.
                “Apasih kamu, kaku banget!” Sontak aku memukul bahunya keras.
                “Hahahahahahha….” Semua teman dekatku tertawa.
                “Eh, kamu traktir dong Fi, 3 besar loh. Kapan lagi kamu bakal traktir kita?” Bujuk Mutia.
                “Emm gimana ya..?” Rafi menggaruk kepalanya.
                “Hah?Iya Fi? Kamu bakalan traktir kita-kita? Ayo geng kita cabut!!!” Heboh Mira yang baru saja datang.
                “Eh, siapa bilang mau traktir?” Rafi memasang tampang bloon. Aku pun segera mendorong punggungnya.
                “Oke-oke. Warung depan aja oke?” Rafi mengalah.
                “OKEEEEE” Teriak teman-teman lain.

***

                “Za, kamu rencana mau lanjutin kemana nih?” Tanya Riska sambil mengambil kecap.
                “Rencana nya sih disini-disini juga.” Jawabku asalan.
                “Gak mau keluar daerah Za? Lebih enak loh tinggal di luar.” Sambut Rafi.
                “Gak tau deh Fi. Belum mikir sampai sana.” Asalan lagi.
                “Tumben Zaza jawab gitu. Biasanya diantara kita, kamu kan yang paling bersemangat menggurui kami tentang masa depan? Ahahahahhahaa..” Canda Mira disusul gelak tawa yang lain.

Drrt Drrt

                Aku merasakan handphone ku berbunyi. Tapi tak lama. Jadi, aku biarkan saja. Paling juga sms gak penting.
                “Ya.. lagi ga mau bahas aja. Nikmati aja masa SMA kita yang kurang 1 tahun ini lagi mameeen!!” Sahutku dan disambut tawa yang lain lagi.
                “Ntar kalo kuliah di luar pasti banyak cowok cakep..” Mutia berkata sendiri dan mengerlingkan matanya ke kami. Jijik.
                “Kalo emang gitu tujuan kamu, pasti ga bakalan dapat.” Sontak jawabku.
                “Rasain Mut!! Denger gak tuh nasehat guru Zaza!” Lanjut Rafi.
                Semuanya tertawa lagi melihat Mutia yang merajuk. Yap. Masa SMA ku hanya 1 tahun lagi. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya. SMA adalah momen terindah di hidupku.

Drrt Drrt Drrt

                Handphone ku bergetar lama. Tandanya ada telephone masuk. Aku mengeluarkannya dari saku.

Abang Ku <3 memanggil…

                Aku melongo tak percaya terhadap apa yang aku lihat. Aku buru-buru meninggalkan warung depan dan tidak menghiraukan panggilan teman-temanku. Aku berlari dengan handphone di genggaman mencari tempat tersembunyi. Aku berdiri di balik dinding sebuah rumah besar bercat putih di dekat sekolah ku. Aku memencet tombol hijau di handphone.

                “Halo..?”
                “…”
                “HALO?!!”
                “….”
                Air mataku mulai menetes akan kejadian saat ini. Dia menghubungiku setelah berbulan-bulan menghilang.
                “Halo,abang?” Suaraku bergetar.
                “…”
                “Abang dimana bang? Abang selama ini kemana? Kenapa abang gak pernah hubungi Zaza lagi? Kenapa bang? Kenapa abang menghilang begitu saja? Abang marah sama Zaza bang? Abang marah karna Zaza udah berbohong tentang rasa Zaza kepada abang? Segitukah abang sibuk? Abang merasa Zaza udah mengganggu abang?”
                “…”
                “Abang jawab!! Kenapa bang? Nilai Zaza anjlok bang gara-gara Zaza ga tau mesti nanya ke siapa tentang fisika!!” Aku sudah tersedu. Aku yang bodoh ini sudah di permainkan oleh orang dewasa.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan panggilan yang masih tersambung. Aku benci! Dia tidak merasakan sakitnya aku pada detik ini. Aku benci karna dia tidak menjawab semua pertanyaanku. Aku benci karna mengapa baru hari ini dia kembali menghubungi ku?
                Kalau Abang melihatku menangis lagi seperti ini, dia pasti marah.

                “Hai..” Suara itu. Aku tau suara itu. Tapi aku tak yakin. Aku memaksakan diri berbalik dengan muka keruh.
               
                EFANDI IRANDANI. 19 TAHUN. Seseorang yang telah membuat aku menunggunya dan membuang-buang waktu untuk merindukannya.
                Aku melongo akan apa yang ku lihat. Dia menggunakan jas merah itu lagi, dan jam tangan ku dua tahun yang lalu aku berikan di tangan kanannya.
                “Ternyata lari kamu kencang juga ya.” Lirihnya sambil tersenyum.
                Cengeng. Aku menangisinya lagi di hadapannya. Kali ini bukan karna merindunya. Karna dia telah kembali. Sekarang, aku tak peduli aku akan dimarahinya karna menangis.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar