BY. JEHAN KA
Saya tidak tau apa yang harus saya perbuat terhadap gadis kecil ini. Yup. Dia adik kelasku, yang pernah saya marahi habis-habisan ketika dia tidak mendapatkan biawak ketika MOS berlangsung. Lucu juga saya pernah membuat dia menangis dengan melap ingusnya. Hihihi.
Hari ini dan seterusnya saya mempunyai mata kuliah yang sangat padat berikut dengan organisasi-organisasi di sampingnya. Dan saya tidak tau bagaimana harus menjelaskan kepadanya betapa susahnya hari-hariku. Buktinya, dia pernah mengatakan, “Cuma balas huruf y aja ga bisa saking sibuknya?” cukup membuatku tertohok. Tapi sekali lagi ia takkan mengerti. Di sisi lain saya juga ingin mendapat perhatian darinya, karena memang dia orangnya perhatian banget dari dulu. Hahahaha.
Setiap malam saya selalu mendapat pesan singkat kosong darinya. Saya tersenyum. Saya meninggalkan pesannya dan melanjutkan tugas kuliah saya. Malam yang lain, saya juga turut berbahagia karena ia mendapatkan nilai yang tinggi di sekolahnya. Ahahhahh. Seperti adik SD saya saja. Tapi saya menikmati semua pesannya kok. Tapi,yah, cuma ga sempet aja balasnya. Dia itu, kalo sms panjang-panjang. Jadi saya juga harus balasnya panjang-panjang. Makanya saya lebih memilih untuk “pura-pura” tidak merespon.
***
“Fan, tugas kalkulus lo gimana?” Tanya Alber, teman satu kelas saya di kalkulus.
“Sip. Udah beres kok.” Jawab saya simple, dan menyeruput es teh manis saya di kantin siang ini. 1 jam lagi saya akan ada kelas kalkulus.
“Udah gue kira lo pasti jawab gitu. Calon cumlaude kan? Ahahhaha.” Canda Alber.
“Ah lo ada-ada aja. Emang semuanya disuruh gini. Gak gue doang kerajinan buat ginian.hahahhahaa.” Akhirnya saya tertawa juga.
Drrt Drrt Drrt
Hape saya berdering. Dan saya tau siapa yang memanggil. Saya hanya membiarkan hape berdering sendiri di atas meja kantin. Saya membuka map untuk mengambil note kecil tom and jerry berwarna hijau kebiru-biruan. Pemberian dari dia, tepat sebelum dia naik motor saya waktu terakhir bertemu.
“Eh, hape lo tuh? Ga angkat?” Alber mendongakkan kepalanya ke arah hape yang terus berdering. Saya mengalihkan pandangan ke hape dan kembali sibuk dengan note tersebut.
“Biarin aja gih. Ntar bosan sendiri.” Jawab saya.
“Haha iyadeh. Eh, btw note lo lucu juga. Beli dimana man?” Alber langsung menarik note saya. Dan saya menariknya lagi, saya tak ingin ada satu orangpun yang tau isi note ini.
“Pemberian adek gue.” Jawab saya singkat.
***
2 minggu yang lalu..
“Ayo naik.” Sahut saya sambil menyerahkan helm kepadanya.
“Eh,tunggu tunggu, ada sesuatu.” Dia tidak menerima helm saya, saya menunggu dia, dan melihat dia krasak-krusuk dengan tasnya.
“Apaan?” Saya heran dengan kesibukannya itu.
“INI!!!” Dia mengeluarkan sebuah kantong kecil bewarna putih dengan wajah cerah. Saya hanya mengernyitkan dahi. Heran.
“Ini, untuk abang, tapi tadi aku lupa.” Sungutnya. Dia mengeluarkan sebuah note kecil. Dia memberikannya kepada saya. Belum sempat saya meneliti lebih lanjut, dia menariknya lagi.
“Eh tunggu dulu!!!” Jerit dia. Bikin saya kaget. Dengan terpaksa saya memberikannya lagi.
“Label harganya lupa dicopot..” Katanya polos. Saya tertawa. Saya memang benar-benar bahagia melihat kepolosan gadis kecil ini di banding yang seumuran dengannya namun bergaya dewasa. Dia mencopot label harga dengan susah payah dan tergesa-gesa.
“Ini, buat abang. Simpan ya! Tadinya mau gambar anime sih di dalamnya. Ohya, tadi rencananya aku mau bawa sketchbook aku. Untuk liatin ke abang kalo aku pandai gambar. Tapi lupa, hehehhee.”
“Ini buat abang? Wah, bagus. Lucu. Kok tadi ga digambar aja?”
“Lupa..hehehe.” dia cengengesan lagi dan membuat saya melambung.
***
Sudah 3 bulan gadis kecil saya tidak menghubungi saya lagi. Saya tau ini akan terjadi, dimana ia sudah bosan karna saya tidak pernah merespon pesannya atau callnya lagi semenjak pagi itu. Ya, pagi itu. 3 hari berturut-turut pagi saya selalu lebih berwarna. Karna ada dia yang mengucapkan selamat pagi dan selalu memberikan saya semangat. Pagi itu, terakhir kali saya menghubunginya, saya mengucapkan selamat pagi dan memberikannya semangat. Ia bertanya, apa mata kuliah saya sekarang. Tapi karna saya terlambat bangun, saya tidak merespon pesannya dan langsung menutup hape.
Saya kangen dimana setiap saya membuka hape, dalam satu hari pasti ada satu panggilan atau satu pesan. Apakah dia tau bahwa saya selalu tersenyum ketika mengingatnya? Saya berargumen dia tidak akan menyadarinya. Dia malah menyangka saya tidak akan lagi mengingatnya atau melupakannya. Tidak. Itu salah. Saya selalu mengingatnya. Dan saya ingin pulang dan bertemu dengannya lagi. Saya memang sangat-sangat rindu.
Saya berjanji, apabila dia kembali menghubungi saya detik ini, saya akan meresponnya.
***
“Fan, sampai ketemu semester depan ya!” Sahut Alber dan melambaikan tangannya kepada saya. Saya mengangguk dan melambaikan tangan juga di bandara tersebut.
Yup. Saya pulang hari ini dengan banyak hal yang membuat saya bangga. Prestasi saya meningkat, tambahan beasiswa, nilai saya lebih banyak A daripada B, dan serentetan hal lainnya. Juga saya tidak pernah lupa satu hal. Saya akan bertemu gadis kecil saya!
***
Kemarin ini jum`at. Saya tidak ke sekolah lama saya untuk bertemu dengan gadis kecil saya. Saya juga tidak mengabarinya bahwa saya sudah pulang. Saya akan membuat suatu kejutan.
Dan hal bodoh dari saya adalah, sekarang tanggal penerimaan rapor kenaikan kelas. Hal begok ini saya dapat dari adik saya yang masih SMP. Saya agak kecewa. Peluang saya untuk bertemu dia sangatlah kecil. Ada kemungkinan saya tidak akan bertemu dengannya. Dan harus menunggu ajaran baru lagi. Saya tak mau. Karna saya memang sungguh rindu.
Oleh karna itu, jam 10 pagi ini juga saya menancap gas dari pertemuan dengan teman-teman satu almamater saya. Pertemuan itu tak kira-kira memakan waktu 3 jam. Saya pergi bergegas dengan tetap menggunakan jas merah saya. Tak lupa jam tangan kado darinya ketika saya berulang tahun ke 17. Saya membuktikan saya masih mengingatnya.
Saya memarkirkan motor di tempat parkir sekolah. Sekolah sudah lengang. Saya cemas. Sangat takut untuk tidak melihatnya. Saya berjalan menuju lobi sekolah saya. Disana hanya ada beberapa staff sekolah dan guru-guru yang pulang. Juga beberapa murid yang memegang rapor. Saya tidak tau dimana saya akan bertemu dengan dia. Saya juga malu bertanya kepada murid-murid disana.
Setelah saya berjalan tak tentu arah selama 10 menit, saya kembali lagi ke parkiran. Saya menghibur diri saya sendiri. Saya percaya masih ada kesempatan bertemu dengannya. Saya menstrater motor saya dan keluar dari pekarangan sekolah. Namun, di warung depan masih banyak murid yang berkeliaran ataupun duduk-duduk disana. Saya sejenak menghentikan motor saya. Dan menangkap sosok yang saya cari disana. Ya. Saya tau siapa dia. Meskipun dia membelakangi saya, saya tau persis bagaimana gelagatnya. Tanpa ragu lagi, saya mengambil hape dari kantong dan mengirimnya pesan singkat.
Hai..
Apakabar?
Liat ke gerbang sekolah..
10 menit berlalu. Dan ia tidak memegang hapenya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghubunginya segera. Tak lama ia mengangkat hapenya. Dengan muka yang pucat, ia segera meninggalkan tempat itu dan meninggalkan teman-temannya yang berteriak memanggilnya.
Ia lari. Kencang. Sangat kencang. Melewati saya, dengan muka yang masih pucat. Saya kaget. Saya langsung menurunkan standar motor saya. Saya berlari menyusulnya dengan panggilan yang masih tersambung. Dia belum mengangkat panggilan saya.
Tak lama kemudian ia berhenti di sebuah rumah besar bercat putih. Saya tak menyusulnya lagi. Saya hanya memerhatikannya dari radius 5 meter. Diam membelakangi saya.
Dia mengangkat telephone saya. Dan dia berkata segala hal. Dia menangis. Gadis kecil saya menangis. Saya tidak mengizinkannya menangis sama sekali. Saya pasti akan memarahinya nanti. Dia berkata dalam nada tinggi dan kata-kata yang cepat. Namun sukses simpan di dalam memori saya. Saya tak berniat menjawab segala pertanyaannya.
Tiba-tiba dia diam, dan tersedu-sedu setelah mengatakan serangkaian kata-kata tadi.
Saya melangkah pasti mendekatinya.
“Hai..” Saya menyapanya dengan suara tercekat. Saya bertemu lagi dengannya. Setelah 5 bulan meninggalkannya sendiri. Saya bodoh baru menyadari bagaimana kesepiannya dia tanpa saya.
Dia menoleh. rasa yang sama saya alami ketika saya pertama kali memerhatikan matanya kembali.
“Ternyata lari kamu kencang juga ya.” Saya tersenyum. Saya akan kembali mendengarkan cerita-cerita hidupnya kembali.
ZANIA MARISA. 16 TAHUN.
Dan untuk kali ini, saya tidak akan memarahinya karena menangis.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar