Minggu, 07 Oktober 2012

Topeng




Karya Jehan Khairina Azwar

Topeng Senin
Aku harus tersenyum
Kepada semua musuhku
Topeng mereka cantik
Terbuat dari beludru bertahta berlian

Topeng Selasa
Aku mempunyai teman
Temanku cantik-cantik
Dan temanku sangat banyak
Mereka menusuk tulang belakangku

Topeng Rabu
Aku tertawa di pesta topeng
Aku menyayangi mereka
Mereka dapat membacaku
Kecuali air mataku di balik topeng liat ini

Topeng Kamis
Para topeng cantik mengetahui namaku
Tapi tidak dengan ceritaku
Mereka tau apa yang aku perbuat
Tapi tidak dengan apa yang kulalui

Topeng Jumat
Topeng beludru mengumbar asanya
Mereka masih tertawa
Mereka masih bersama
Aku tau,mereka menitikkan air mata

Topeng Sabtu
Ada seseorang di koridor
Ia menggenggam tangan si topeng beludru
Ia ikut menangis bersamanya
Oh celaka,di balik topeng cantiknya
Ia tertawa

Topeng Ahad
Topeng ku terlalu jelek
Di mata mereka
Memang, topengku hancur
Karena mereka hanya mengetahui
Topengku dan namaku

Bendera di Gunung Sampah



Karya Jehan Khairina Azwar
                Seperti di hari-hari biasanya, Andi duduk di bangku coklat favoritnya dan menghadap ke jendela sebelah kirinya. Di meja yang sudah lapuk dan penuh coret-coretan tidak jelas, terletak sebatang pensil dan penghapus serta buku isi 40 bersampul kacang. Di sampul buku tersebut tertulis : Andi, dengan goresan pensilnya. Terlihat bagaimana kerasnya pensil itu ditekan. Huruf kapital, dengan noda minyak di kanan bawahnya. Buku itu telah terisi 22 lembarnya. Namun Andi tak berminat melihat ke arah halaman ke-23 bukunya yang sedang terkembang tersebut.
                Andi  menumpukan telapak tangan kanannya ke dagu runcingnya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mengetuk meja yang mengiringi senandungnya. Mata bulatnya tak pernah lepas dari sehelai kain lusuh yang berkibar ditiup angin. Sisi kiri kain tersebut dijahitkan 3 kain lainnya berukuran kecil,seperti tali. Tali kecil dari kain itu diikatkan pada sebilah bambu setinggi 2 setengah meter dan ditancapkan diantara gunungan sampah. Ada bekas kaleng makanan, sampah plastik, kardus-kardus bekas,besi karatan dan sebagainya. Andi tersenyum, dan merapikan rambut ikalnya. Sungguh, senyumnya itu sangat indah, dan aku sangat ingin membelai kepalanya. Tunggu, setelah aku menyelesaikan pelajaran perkalian hari ini, aku akan memberikan sebatang coklat permen yang ku beli kemaren sore di kota, khusus untuknya. Kau sebut aku tidak adil bukan? Ya. Karna muridku disini ada 8 orang, dan aku hanya memberikan itu pada Andi, karna Andi telah berhasil mewujudkan salah satu cita-cita dalam hidupnya yang baru berumur 9 tahun tersebut.
***
                Pelajaran pagi ini telah selesai. Aku telah mengajari mereka bagaimana Indonesia mencapai kemerdekaannya. Kurang lebih 2 jam aku dan mereka berkelakar tentang kekalahan Jepang,rapat BPUPKI,perumusan Pancasila,Peristiwa Rengasdengklok serta pembacaan teks Proklamasi. Wajah-wajah mereka yang hampir putus sekolah ini menyemangatiku setiap pagi untuk bersepeda kurang lebih 8 km dari  rumah kecilku di tepi kota untuk mengajar 8 murid yang berumur di bawah 10 tahun. Aku mengajari mereka tentang apa saja, sejarah,pengetahuan alam,bahasa Indonesia,bahasa Inggris,matematika,mengaji dan menggambar.
                Aku telah berada di antara mereka 6 bulan belakangan ini. Dimana aku diminta untuk membantu anak-anak masyarakat desa yang terisolir,jauh dari jangkauan pemerintah,dan tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sekolah. Sebenarnya, aku berpikir keras untuk mengajar tanpa dibayar oleh pamanku yang kebetulan sebagai buruh tani disana, karena aku juga harus menyelesaikan skripsiku sebagai sarjana pendidikan semester 4 di universitasku.
                “Kak Dina.. cita-cita itu apa?” Reni,7 tahun,selalu duduk di depan memberhentikanku dari kegiatan beres-memberes barang-barangku. Aku tersenyum, karena mata teman-temannya menatapku dengan penuh harap.
                Aku membetulkan sisi kiri jilbabku.
                “Cita-cita itu adalah salah satu keinginan terbesar seseorang dalam hidupnya.. setiap orang yang mempunyai cita-cita pasti akan berusaha”
                “Apakah kita wajib memiliki cita-cita?”Tanya Adi, yang duduk paling belakang.
                “Huuu emang solat,wajib? Kamu saja solat gak pernah,apalagi cita-cita” Ledek Novi, yang duduk di bangku paling depan sebelah kiri,disambut gelak tawa yang lain.
                “Cita-cita itu seperti apa,Kak?”
                “Seperti… keinginan kita yang terbesar,dalam kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.”
                “Cita-cita kakak apa?”
                “Kakak ingin menjadi seorang guru SD”
                “Kak,kalau ingin jadi seperti Pak Subur itu juga cita-cita kak?” Sahut Adi.
                Aku tersenyum. Pak Subur adalah supir angkot kota yang berangkat pukul 5 pagi dan pulang jam 11 malam.
                “Boleh.. cita-cita itu apa saja.. asalkan halal..”
                Mereka mengangguk-angguk menyatakan pengertiannya.
                “Oh ya, bagaimana kalian menuliskan di selembar kertas apa cita-cita kalian dan mengumpulkannya besok?”
***
                Cita-cita 8 orang anak telah berada di meja plastik di hadapanku. Aku membaca satu persatu dengan senyum yang ku gulum. Mereka sedang mengerjakan perkalian dua suku yang aku diktekan tadi.
                Reni. Suatu saat aku akan punya jilbab cantik seperti punya kakak.
                Adi. Ingin punya sebuah cangkul.
                Novi. Jadi guru seperi kakak, biar bisa mengajar adik-adik Novi.
                Andi. Melihat bendera merah putih.
                Aku tertegun. Melihat bendera merah putih?maksudnya apa?
                “Adik-adik.. Tanggal kemerdekaan RI kapan?”
                “17 Agustus..”
                “Apakah kita wajib mengibarkan bendera?”
                “Wajib..kak”
                Aku terdiam. Darahku berdesir.
                “Tapi kak, kita sebagai orang Indonesia kenapa tidak mengibarkan bendera? Kita kan sudah merdeka.” Celetuk Reni.
                Karna kita belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya,Reni. Jawabku di dalam hati. Karna sulit menjelaskan pada mereka, yang belum terlalu mengerti. Syukur-syukur mereka bisa mengingat tanggal berapa kemerdekaan negara mereka serta warna bendera bangsa.
                Uang untuk membeli beras saja sudah minta ampun susahnya. Bendera katamu? Kita disini tidak pernah memikirkan negara toh Din. Hal yang paling penting itu bagaimana kita tetap hidup. Ya, cari uang buat makan dong Din.
                Begitulah jawab Pamanku ketika aku bertanya tentang apakah desa nya mempunyai bendera atau tidak.
                Biar aku gambarkan sedikit tentang desa ini. desa ini terletak di balik pegunungan sampah kota yang menjulang. Rumah-rumah kardus,triplek berserakan sana sini. Masyarakat berprofesi sebagai pemulung. Derajat yang agak tinggi yaitu buruh tani. Sedangkan orang yang cukup mampu disini adalah Pak Subur, yang berprofesi sebagi supir angkot. Angkot yang dibawanya pun bukan miliknya.
                “Bendera kamu bilang? Cari makan aja susah” Ledek Novi disambut anggukan teman-temannya. Kecuali Andi. Aku bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.
***
                Keesokan harinya, Andi datang lebih awal dari biasanya.
                “Kak Dina, apakah mungkin desa kita mengibarkan bendera?” Matanya menatapku lekat-lekat.
                “Memang kenapa Andi?”
                “Aku berbicara dengan Bapak dan abang-abang tadi malam. Mereka menertawakanku. Mereka bilang tidak mungkin desa yang kotor ini berkibar bendera. Bendera hanya untuk orang-orang kaya.”
                Sekali lagi,aku tertegun. Aku menatap tanah yang lembap dan berbicara padanya.
                “Bukan begitu Andi.. mungkin kamu akan dapat mengibarkan bendera itu.. 10 tahun lagi.. setelah kamu menjadi petani” Aku berusaha tersenyum sekuat mungkin.
                “Aku.. tidak mau kak. Karna itu cita-citaku.”Rahangnya mengeras.
                “Ya.. kamu tentunya ingin mewujudkannya 10 tahun lagi kan? makanya kamu harus rajin belajar untuk mendapatkannya..”
                “10 tahun terlalu lama untuk sehelai bendera,kak”
***
                Sudah seminggu aku tidak melihat Andi duduk di bangkunya. Teman-temannya juga tidak tau dimana keberadaan mereka. Rencananya, sehabis mengajar, aku dan para murid berniat ke rumahnya. Namun hujan tak kunjung henti, sejak seminggu ketidakhadiran Andi.
                Sekitar satu jam aku melupakan Andi dan bercerita kepada murid-murid tentang kancil dan buaya, sosok bertubuh kecil menerobos hujan dengan kresek hitam di atas kepalanya.
                Andi.
                Aku mengambil sapu tangan ku dan membersihkan wajahnya. Kresek hitam itu tidak lepas dari genggamannya.
                “Kamu darimana Andi?” Tanyaku cemas. Andi menggigil dan tidak menjawab pertanyaanku. Ia lebih memilih menjawab pertanyaan Adi.
                “Apa yang kamu bawa,Ndi?”
                “Bendera.”
                Aku termangu. Tidak percaya, sampai Andi tenang, dan menceritakan semuanya.
                “Andi hanya ingin melihat bendera berkibar diantara sampah-sampah itu. Karna Andi yakin kita tidak pernah melihatnya, kecuali dari buku-buku yang dibawa kak Dina. Andi sangat ingin melihat bagaimana bendera bangsa kita berkibar di tanah kita.”
                Simpel, untuk anak sekecil itu menjelaskan alasannya. Tapi asal kau tau saja, tidak untuk usahanya yang menghilang berhari-hari untuk memulung di kota. Sambil mencari bendera bekas. Andi menemukannya tergeletak begitu saja di bak sampah. Andi menemukannya dan langsung pulang untuk melihatkannya padaku. Untuk membuktikan, 10 tahun terlalu lama untuk sehelai bendera.
                Keesokan harinya , matahari sudah tampak. Kita mengikatkan tali dari kain bendera tersebut ke bambu bekas yang ditemukan Adi. Yang lain menggali sedikit tanah yang ada di sisi kelas kecil ku itu, untuk membenamkan bambu tersebut. Sekarang, di desa ini, sudah mempunyai satu bendera lusuh yang berkibar di antara sampah-sampah.
                Dan aku mempunyai murid-murid yang gigih untuk menggapai cita-citanya.


Padang,29 September 2012
23:50