Karya Jehan Khairina Azwar
Seperti
di hari-hari biasanya, Andi duduk di bangku coklat favoritnya dan menghadap ke
jendela sebelah kirinya. Di meja yang sudah lapuk dan penuh coret-coretan tidak
jelas, terletak sebatang pensil dan penghapus serta buku isi 40 bersampul
kacang. Di sampul buku tersebut tertulis : Andi, dengan goresan pensilnya.
Terlihat bagaimana kerasnya pensil itu ditekan. Huruf kapital, dengan noda
minyak di kanan bawahnya. Buku itu telah terisi 22 lembarnya. Namun Andi tak
berminat melihat ke arah halaman ke-23 bukunya yang sedang terkembang tersebut.
Andi menumpukan telapak tangan kanannya ke dagu
runcingnya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mengetuk meja yang mengiringi
senandungnya. Mata bulatnya tak pernah lepas dari sehelai kain lusuh yang
berkibar ditiup angin. Sisi kiri kain tersebut dijahitkan 3 kain lainnya
berukuran kecil,seperti tali. Tali kecil dari kain itu diikatkan pada sebilah
bambu setinggi 2 setengah meter dan ditancapkan diantara gunungan sampah. Ada
bekas kaleng makanan, sampah plastik, kardus-kardus bekas,besi karatan dan
sebagainya. Andi tersenyum, dan merapikan rambut ikalnya. Sungguh, senyumnya
itu sangat indah, dan aku sangat ingin membelai kepalanya. Tunggu, setelah aku
menyelesaikan pelajaran perkalian hari ini, aku akan memberikan sebatang coklat
permen yang ku beli kemaren sore di kota, khusus untuknya. Kau sebut aku tidak
adil bukan? Ya. Karna muridku disini ada 8 orang, dan aku hanya memberikan itu
pada Andi, karna Andi telah berhasil mewujudkan salah satu cita-cita dalam
hidupnya yang baru berumur 9 tahun tersebut.
***
Pelajaran
pagi ini telah selesai. Aku telah mengajari mereka bagaimana Indonesia mencapai
kemerdekaannya. Kurang lebih 2 jam aku dan mereka berkelakar tentang kekalahan
Jepang,rapat BPUPKI,perumusan Pancasila,Peristiwa Rengasdengklok serta
pembacaan teks Proklamasi. Wajah-wajah mereka yang hampir putus sekolah ini
menyemangatiku setiap pagi untuk bersepeda kurang lebih 8 km dari rumah kecilku di tepi kota untuk mengajar 8
murid yang berumur di bawah 10 tahun. Aku mengajari mereka tentang apa saja,
sejarah,pengetahuan alam,bahasa Indonesia,bahasa Inggris,matematika,mengaji dan
menggambar.
Aku
telah berada di antara mereka 6 bulan belakangan ini. Dimana aku diminta untuk
membantu anak-anak masyarakat desa yang terisolir,jauh dari jangkauan
pemerintah,dan tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sekolah. Sebenarnya, aku
berpikir keras untuk mengajar tanpa dibayar oleh pamanku yang kebetulan sebagai
buruh tani disana, karena aku juga harus menyelesaikan skripsiku sebagai
sarjana pendidikan semester 4 di universitasku.
“Kak
Dina.. cita-cita itu apa?” Reni,7 tahun,selalu duduk di depan memberhentikanku
dari kegiatan beres-memberes barang-barangku. Aku tersenyum, karena mata
teman-temannya menatapku dengan penuh harap.
Aku
membetulkan sisi kiri jilbabku.
“Cita-cita
itu adalah salah satu keinginan terbesar seseorang dalam hidupnya.. setiap
orang yang mempunyai cita-cita pasti akan berusaha”
“Apakah
kita wajib memiliki cita-cita?”Tanya Adi, yang duduk paling belakang.
“Huuu
emang solat,wajib? Kamu saja solat gak pernah,apalagi cita-cita” Ledek Novi,
yang duduk di bangku paling depan sebelah kiri,disambut gelak tawa yang lain.
“Cita-cita
itu seperti apa,Kak?”
“Seperti…
keinginan kita yang terbesar,dalam kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.”
“Cita-cita
kakak apa?”
“Kakak
ingin menjadi seorang guru SD”
“Kak,kalau
ingin jadi seperti Pak Subur itu juga cita-cita kak?” Sahut Adi.
Aku
tersenyum. Pak Subur adalah supir angkot kota yang berangkat pukul 5 pagi dan
pulang jam 11 malam.
“Boleh..
cita-cita itu apa saja.. asalkan halal..”
Mereka
mengangguk-angguk menyatakan pengertiannya.
“Oh ya,
bagaimana kalian menuliskan di selembar kertas apa cita-cita kalian dan
mengumpulkannya besok?”
***
Cita-cita
8 orang anak telah berada di meja plastik di hadapanku. Aku membaca satu
persatu dengan senyum yang ku gulum. Mereka sedang mengerjakan perkalian dua
suku yang aku diktekan tadi.
Reni. Suatu saat aku akan punya jilbab cantik
seperti punya kakak.
Adi. Ingin punya sebuah cangkul.
Novi. Jadi guru seperi kakak, biar bisa mengajar adik-adik Novi.
Andi. Melihat bendera merah putih.
Aku
tertegun. Melihat bendera merah putih?maksudnya apa?
“Adik-adik..
Tanggal kemerdekaan RI kapan?”
“17
Agustus..”
“Apakah
kita wajib mengibarkan bendera?”
“Wajib..kak”
Aku
terdiam. Darahku berdesir.
“Tapi
kak, kita sebagai orang Indonesia kenapa tidak mengibarkan bendera? Kita kan
sudah merdeka.” Celetuk Reni.
Karna
kita belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya,Reni. Jawabku di dalam hati.
Karna sulit menjelaskan pada mereka, yang belum terlalu mengerti. Syukur-syukur
mereka bisa mengingat tanggal berapa kemerdekaan negara mereka serta warna
bendera bangsa.
Uang untuk membeli beras saja sudah minta
ampun susahnya. Bendera katamu? Kita disini tidak pernah memikirkan negara toh
Din. Hal yang paling penting itu bagaimana kita tetap hidup. Ya, cari uang buat
makan dong Din.
Begitulah
jawab Pamanku ketika aku bertanya tentang apakah desa nya mempunyai bendera
atau tidak.
Biar
aku gambarkan sedikit tentang desa ini. desa ini terletak di balik pegunungan
sampah kota yang menjulang. Rumah-rumah kardus,triplek berserakan sana sini.
Masyarakat berprofesi sebagai pemulung. Derajat yang agak tinggi yaitu buruh
tani. Sedangkan orang yang cukup mampu disini adalah Pak Subur, yang berprofesi
sebagi supir angkot. Angkot yang dibawanya pun bukan miliknya.
“Bendera
kamu bilang? Cari makan aja susah” Ledek Novi disambut anggukan teman-temannya.
Kecuali Andi. Aku bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.
***
Keesokan
harinya, Andi datang lebih awal dari biasanya.
“Kak
Dina, apakah mungkin desa kita mengibarkan bendera?” Matanya menatapku
lekat-lekat.
“Memang
kenapa Andi?”
“Aku
berbicara dengan Bapak dan abang-abang tadi malam. Mereka menertawakanku.
Mereka bilang tidak mungkin desa yang kotor ini berkibar bendera. Bendera hanya
untuk orang-orang kaya.”
Sekali
lagi,aku tertegun. Aku menatap tanah yang lembap dan berbicara padanya.
“Bukan
begitu Andi.. mungkin kamu akan dapat mengibarkan bendera itu.. 10 tahun lagi..
setelah kamu menjadi petani” Aku berusaha tersenyum sekuat mungkin.
“Aku..
tidak mau kak. Karna itu cita-citaku.”Rahangnya mengeras.
“Ya..
kamu tentunya ingin mewujudkannya 10 tahun lagi kan? makanya kamu harus rajin
belajar untuk mendapatkannya..”
“10
tahun terlalu lama untuk sehelai bendera,kak”
***
Sudah
seminggu aku tidak melihat Andi duduk di bangkunya. Teman-temannya juga tidak
tau dimana keberadaan mereka. Rencananya, sehabis mengajar, aku dan para murid
berniat ke rumahnya. Namun hujan tak kunjung henti, sejak seminggu
ketidakhadiran Andi.
Sekitar
satu jam aku melupakan Andi dan bercerita kepada murid-murid tentang kancil dan
buaya, sosok bertubuh kecil menerobos hujan dengan kresek hitam di atas
kepalanya.
Andi.
Aku
mengambil sapu tangan ku dan membersihkan wajahnya. Kresek hitam itu tidak
lepas dari genggamannya.
“Kamu
darimana Andi?” Tanyaku cemas. Andi menggigil dan tidak menjawab pertanyaanku.
Ia lebih memilih menjawab pertanyaan Adi.
“Apa
yang kamu bawa,Ndi?”
“Bendera.”
Aku
termangu. Tidak percaya, sampai Andi tenang, dan menceritakan semuanya.
“Andi
hanya ingin melihat bendera berkibar diantara sampah-sampah itu. Karna Andi
yakin kita tidak pernah melihatnya, kecuali dari buku-buku yang dibawa kak
Dina. Andi sangat ingin melihat bagaimana bendera bangsa kita berkibar di tanah
kita.”
Simpel,
untuk anak sekecil itu menjelaskan alasannya. Tapi asal kau tau saja, tidak
untuk usahanya yang menghilang berhari-hari untuk memulung di kota. Sambil
mencari bendera bekas. Andi menemukannya tergeletak begitu saja di bak sampah.
Andi menemukannya dan langsung pulang untuk melihatkannya padaku. Untuk
membuktikan, 10 tahun terlalu lama untuk sehelai bendera.
Keesokan
harinya , matahari sudah tampak. Kita mengikatkan tali dari kain bendera
tersebut ke bambu bekas yang ditemukan Adi. Yang lain menggali sedikit tanah
yang ada di sisi kelas kecil ku itu, untuk membenamkan bambu tersebut.
Sekarang, di desa ini, sudah mempunyai satu bendera lusuh yang berkibar di
antara sampah-sampah.
Dan aku
mempunyai murid-murid yang gigih untuk menggapai cita-citanya.
Padang,29 September 2012
23:50